Dahulu Namanya Jalan ke Menteng.

JAKARTA, KOMPAS.com - Seorang pria kulit putih menyambut para peserta Jakarta Heritage Trials: Menjelajahi Kota Taman Pertama di Nusantara di rumahnya, Jalan Muhammad Yamin 37, Menteng, Jakarta Pusat. Dengan sapaan berbahasa Indonesia, ia mengajak setiap kelompok peserta tur masuk ke dalam rumah besarnya.

"Eh, anak kecil! Kamu ke sini supaya bisa dilihat," pinta Adolf Heuken, pria Jerman yang adalah periset sejarah kolonial Kota Jakarta kepada salah seorang anak di ruang tamu rumahnya, Minggu (28/11/2010).

Lelaki kelahiran 17 juli 1929 di Coesfeld, Jerman bagian utara ini tinggal di Jakarta sejak tahun 1963. Heuken yang seorang pastur ini ditugaskan untuk menjadi penulis di sebuah penerbitan bernama Cipta Loka Caraka.

Heuken menuturkan, sebelum tahun 1910 Menteng merupakan area ladang, perkebunan dan rawa-rawa. Pemerintah Kolonial Belanda kemudian membangun sejumlah rumah untuk kalangan pejabat pemerintahan.

"Di sini, juga dibangun Kali Menteng sebagai saluran yang mengalirkan air antara Kali Ciliwung dan Kali Cideng. Saluran air ini membatasi dua wilayah antara Gondangdia di utara dan Menteng di selatan. Tapi, sekarang kedua wilayah itu disatukan jadi satu, Menteng," ungkapnya.

"Malahan, itu jalan raya di depan Kanisius, PP Muhammadiyah dan Gedung Juang '45, namanya bukan Jalan Menteng Raya, tapi dulunya Jalan ke Menteng," imbuh Heuken yang rambutnya sudah beruban itu.

Heuken sudah menulis segala hal tentang tempat-tempat Jakarta yang dibukukan dalam buku Historical Sites in Jakarta yang sudah dijual di sejumlah toko buku besar. Ia juga menulis buku soal Menteng yang memang dirancang sebagai kota taman pertama di Indonesia.

Dikutip dari : www.KOMPAS.com

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright © Hi World?